Pandangan islam tentang ritual adat

Lagi-lagi kelompok Salafi membikin ulah di pesta pernikahan, di mana saja mereka melakukan perburuan bid’ah, mengatakan ini bid’ah, itu bid’ah, (heresi atau sesat) terhadap hal-hal yang berkenaan dengan adat istiadat lokal yang digunakan di dalam rangkaian acara pernikahan. Alasannya sederhana saja, yakni “karena Nabi tidak pernah melakukan semua upacara itu di masanya, dan kita sebagai orang Islam harus mencontoh Nabi.”

Akhirnya saya tambah gerah dengan orang-orang berideologi puritan begini, saya tanya mengapa semua yang tidak mengikuti tradisi di zaman Nabi dikatakan bid’ah, padahal zaman itu berkembang dan berubah sedangkan aturan-aturan normatif itu bersifat stagnan, maka dari itu ketika terjadi benturan, tidak semuanya harus dikonformasikan dengan teks normatif, sebab ada hal-hal yang musti mengikuti dinamisasi masyarakat. Lagipula dalam kaidah-kaidah hukum Islam bahwa adat istiadat suatu bangsa atau komunitas atau suku bisa menjadi hukum, yaitu kaidah adat al-Muhakkamah. Tetapi kemudian orang tersebut menjelaskan bahwa suatu adat bisa menjadi hukum jika tidak bertentangan dengan al-Qur’an, Sunnah dan tradisi generasi Salaf, sedangkan pemikiran bahwa hukum harus mengikuti perubahan zaman adalah pemikiran yang sesat dan kafir.

Namun saya tidak lantas berhenti begitu saja hanya karena dituding memakai pemikiran kafir, kemudian saya menanyakan mengenai apa yang dimaksudkan dengan “bertentangan” jika melihat adat istiadat lokal seperti yang ada di Indonesia,toh itu hanya serangkaian seremonial saja. Tetapi dia menjawab bahwa adat-adat di Indonesia menyimpan makna mistik dan penuh kesyirikan, demikian pula dengan asal-usul adat Indonesia yang mengasimilasi budaya lain.

Kemudian saya tanya lagi, apakah karena mengadopsi budaya lain lantas tidak bisa dikatakan budaya Islam? Mengadopsi budaya lain tidak perlu sepenuhnya diadopsi pasti ada modifikasinya, lagipula memangnya budaya Islam itu hanya budaya Arab? Dan apakah budaya Islam tidak pernah mengadopsi budaya Arab, atau justru mengadopsi budaya Arab dengan beberapa modifikasi?

Bayangkan selama berabad-abad Islam berjaya di daerah Timur Tengah, lantas tidak pernah mengadopsi budaya lokal setempat? Contoh sederhananya saja kita lihat dengan Cadar, atau kain untuk menutup seluruh wajah dan hanya menampilkan mata, apakah hal ini murni lahir dari teks normatif hukum Islam atau dari adopsi terhadap budaya lokal? Kebetulan di buku-buku fiqh klasik tidak pernah diajarkan yang namanya penelitian antropologis, historis dan sosiologis, sehingga sarjana-sarjana syariah Islam hanya mengenal sesuatu yang normatif, demikian pula dengan buku-buku yang dikarang oleh mereka. Dan baru-baru ini saja di era kontemporer pendekatakan-pendekatan antropologis, arkeologis, etnografis, historis dan sosiologis masuk ke universitas-universitas Islam digunakan sebagai metode penelitian. Walaupun di beberapa negara seperti Saudi Arabia, universitas-universitas Islamnya tidak mempunyai fakultas-fakultas cabang ilmu demikian, tetapi banyak hasil penelitian para akademisi Timur Tengah yang kemudian sudah menggunakan pendekatan-pendekatan tersebut.

Cadar misalnya dapat dibuktikan bukan murni lahir dari teks normatif, yakni perintah yang jelas ditulis dalam teks harus menggunakan cadar bagi perempuan muslim. Itu hanya interpretasi ulama-ulama terhadap perintah teks untuk menutup aurat, dan bagaimana mereka menginterpretasi teks tersebut sehingga mewajibkan perempuan muslim bercadar adalah karena dipengaruhi faktor-faktor lain. Seperti cadar atauniqab sudah dikenal jauh sebelum Nabi Muhammad lahir -dalam bukunya Leila Ahmed tentang Jilbab dan Cadar dikatakan bahwa sejak zaman mesopotamia jilbab dan cadar telah digunakan oleh kaum perempuan dan fungsinya adalah untuk membedakan antara perempuan budak dengan perempuan kelas bangsawan.

Dari sini saya juga berasumsi terhadap penafsiran kata “menahan pandangan” seperti yang dilakukan kelompok Salafi. Seringkali di zaman sekarang kita melihat orang-orang yang sengaja tidak mau melihat wajah lawan jenisnya ketika berbicara dengan dalih “menahan pandangan”, ini sama saja ketika dulu di zaman masih ada perbedaan kelas itu, di mana perempuan bangsawan itu sangat dijaga ketat, bagi siapa saja yang berani melihat wajah mereka atau diam-diam mencuri pandang dibalik cadar-cadar mereka, dapat dikenai sanksi hukuman mati jika ketahuan.

Bagi saya interpretasi atau penafsiran seperti ini perlu diperbaharui lagi di zaman sekarang oleh sebab faktor internal dan faktor eksternal yang mempengaruhi proses penafsiran sudah berbeda dan itu meniscayakan pergeseran atau perubahan penafsiran. Sama ketika cadar menjadi tafsir bagi ayat al-Qur’an tentang menjaga aurat dan menundukkan pandangan, padahal jelas cadar itu sendiri adalah produk budaya.

Dan sekarang kita kembali ke upacara pernikahan, kalau dikatakan bahwa umat Islam yang menggunakan rangkaian upacara adat istiadat lokal adalah sesat atau bid’ah, maka mari kita analogikan dengan aspek lain. Contohnya dalam aspek hukum legal, dikatakan oleh orang-orang Salafi itu bahwa bid’ah adalah sesuatu yang baru dalam hal ibadah yang tidak ditemui pada masa Nabi, Sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in.

Sekarang mari kita pakai pendekatan historis, orang-orang Salafi mengartikulasikan generasi Salaf sebagai tiga generasi awal yaitu Sahabat, Tabi’in (pengikut sahabat), dan Tabi’ut tabi’in (pengikut para tabi’in). Tetapi jika dipetakan menurut data sejarah, itu berarti berlangsung selama tiga abad alias tiga ratus tahun. Sekarang bandingkan dengan zaman modern, di zaman ini kita mengenal hukum legal negara yang mengharuskan pada pasangan yang menikah harus dicatatkan di catatan sipil agar mendapatkan akte kelahiran, kartu keluarga, kartu tanda pengenal sebagai bagian dari sensus penduduk dalam suatu negara.

Jika semua hal yang baru dalam urusan ibadah, dan menikah selalu dikatakan sebagai ibadah yang seringkali didengung-dengungkan dalam khutbah nikah, maka semua muslim Indonesia yang mencatatkan pernikahan adalah bid’ah dan sesat meskipun tidak menggunakan adat istiadat lokal, begitu? Jelas dibilang sesat karena di zaman Nabi belum ada pencatatan di catatan Sipil, apakah bisa dijustifikasi seperti itu?

Oke, mungkin selama tiga ratus tahun pertama orang Islam, misalnya pada masa khalifah telah mengenal sistem pencatatan sipil di mana orang Arab mengenal tradisi riwayat atau sanad, sehingga mampu menghafal silsilah keluarga secara turun temurun. Tetapi kita sendiri tidak sendiri tidak mampu menjelaskan metode sensus apa yang digunakan oleh khalifah-khalifah Islam awal, apakah seperti metode sensus romawi atau persia atau apa? Dan apakah pencatatan pernikahan sudah masuk dalam proses kodifikasi administrasi negara atau hanya sebatas dihafal belaka, dan apakah undang-undang pencatatan pernikahan pernah diselenggarakan atau tidak?

Akan tetapi karena orang yang berdebat dengan saya itu tidak bisa berpikir atau menganalisa ke arah sana, dia berkilah bahwa antara budaya dengan sistem administrasi negara sangat berbeda, namun yang saya maksudkan adalah bagaimana metode yang dia gunakan untuk menjustifikasi perbuatan bid’ah sangat rancu ketika difalsifikasikan. Saya menanyakan pada dia bagaimana pernikahan secara Islam yang tidak bid’ah sebagaimana yang dia maksudkan, akan tetapi dia hanya menyebutkan rukun, syarat sah, syarat wajib dan terakhir ditambahi “tidak melakukan bid’ah”. Itu yang tidak jelas menurut saya, toh semua acara pernikahan yang menggunakan rangkaian adat lokal tidak pernah meninggalkan yang namanya rukun, syarat sah, dan syarat wajib.

“Tetapi dikombinasikan pada hal-hal yang bid’ah,” jawabnya. Tetapi dia sendiri sangat rancu dalam mengatakan bagian-bagian hal yang bid’ah. Pada tataran empiris ketika kita berkunjung ke negara-negara Timur Tengah dan menyaksikan upacara pernikahan mereka, mereka pun menggunakan adat istiadat mereka. Saya pernah menyaksikan acara pernikahan orang Arab di Mesir dan Arab Saudi, di mana para prianya menari-nari dengan menggunakan tongkat dan kaum wanitanya bersiul-siulan keras sekali, lalu mereka menyanyikan lagu-lagu ucapan selamat dan seputar kehidupan berumah tangga. Hal demikian adalah adat dan tradisi, apa bedanya dengan adat Jawa misalkan yang pakai menginjak telur atau ritual memandikan mempelai. Tidak ada bedanya, dan apa itu menyalahi Islam?

Bagi saya sama sekali tidak menyalahi Islam, masyarakat memang membutuhkan simbol dan persoalan memaknainya adalah persoalan personal yang diserahkan secara bebas kembali kepada manusia, dan masyarakat Indonesia pun mempunyai kebebasan untuk memenggal-menggal mana adat yang perlu dilakukan dan mana yang tidak, jadi apa itu bisa dikatakan bid’ah atau sesat? Antara hukum yang normatif dapat dikompromisasi dengan tradisi atau budaya lokal. Di sinilah hukum Islam yang normatif itu menjadi tidak selalu berbenturan dengan dinamisasi masyarakat. Oleh karena itu hukum Islam jangan dimaknai secara rigid atau kaku seperti apa yang dipelajari di bangku-bangku perkuliahan, semua yang masuk di jurusan hukum Islam juga diajari secara text book mengenai definisi bid’ah akan tetapi tidak diajari bagaimana memahami kondisi realitas masyarakat. Saya bukannya menafikan dunia perkuliahan, namun bagi saya, tindakan unifikasi dan konformitas antara doktrin dan hukum seperti kelompok salafi atau induk semangnya si Wahabi adalah percuma dan sia-sia apalagi dalam konteks kekinian.

Sebenarnya jika kaidah “adat istiadat dapat menjadi hukum” dan bid’ah dipahami dalam konteks kemasyarakatan, maka interpretasi dan pemaknaan baru terhadap doktrin-doktrin hukum tersebut dan bagaimana proses penyelenggaraannya tidak lagi harus dibenturkan dengan masyarakat, karena tradisi atau adat itu tidak dengan sendirinya muncul begitu saja, tetapi melalui pergulatan sejarah yang panjang. Sehingga dalam menarik suatu hukum dari mata rantai historis, para pakar hukum Islam tidak semena-mena menjustifikasi dan langsung menyebarkannya di tengah masyarakat yang pada akhirnya dipandang sebagai suatu yang rigid.

sumber : http://sosbud.kompasiana.com/2010/05/21/perburuan-bidah-dan-adat-istiadat/

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s